Feed on
Posts
Comments

insya allah

Sering banget kita dengar frase di atas. Insya Allah, semoga Allah mengijinkan. Filosofi dari frase ini adalah bahwa pada dasarnya manusia itu haruslah tawakkal, menerima apa yang telah diputuskan oleh Tuhan. Berserah diri. Tapi, ada yang sering dilupakan. Sebelum kita berserah diri padaNya, Tuhan bilang: Berusahalah dulu! Jadi, jangan berharap dapat nilai bagus kalau tidak belajar. Jangan berharap kaya kalau tidak mau bekerja. Jangan berharap keledaimu tak hilang bila tak kau ikat dia di pohon ketika kau tinggalkan –itu cerita tentang tawakkal yang sering diceritakan nenekku dulu waktu aku masih kecil.

Namun sekarang, frase yang bermakna dalam dan mulia itu sudah mengalami pergeseran makna. Insya Allah hampir selalu berarti negatif. Ketidakbisaan. Excuse. Euphimisme. Insya Allah dijadikan cara halus untuk melakukan penolakan. Padahal kalau memang menolak, kenapa juga bawa-bawa Tuhan. Bukankah itu keputusan kita sebagai manusia? Kenapa juga menjadikan Tuhan sebagai tameng.

Bila aku mendengar ada teman yang mengatakan frase ini, kadang aku nyelepet: Kenapa nggak bilang aja Insya Gue? Itu lebih jujur aku kira.

It used to be for a best friend of mine, but it seems it should be for myself as well ;p

Do you have doubts about life? Are you unsure if it is worth the trouble? Look at the sky: that is for you. Look at each person’s face as you pass on the street: those faces are for you. And the street itself, and the ground under the street, and the ball of fire underneath the ground: all these things are for you. They are as much for you as they are for other people.

Remember this when you wake up in the morning and think you have nothing. Stand up and face the east. Now praise the sky and praise the light within each person under the sky. It’s okay to be unsure. But praise, praise, praise.

[*the title and quotes taken from Miranda July's novel]

enigma

How can you tell something that is not said? How can you read mind that is not spoken out loud? Even witches in Harry Potter stories need poison and mantra in order to make one tell the truth, tell what in their mind is.

Maybe I am too straightforward. I can not read things between the lines. I can only read what is written. I can only tell what is spoken, what is showed. Am I not sensitive enough? Or am I too rational? Am I using my left brain more than my right part?

Please somebody tell me. I need some enlightenment here. Desperately….

shoe addict

Don’t get it wrong. I am not saying that I am addicted to buying shoes. I am not! (Well, unless there are some cheap nice pairs of course ha..ha..hha…). I just realize that I have a new ‘ritual’ every time I reach the shopping mall’s floor. The first thing I will do is going straight to the shoe counter, or looking for a shoe shop. Years ago, it used to be a book store! Well, people change, don’t they? ;p

I don’t know since when this new habit starts. What I know, trying on shoes is a kind of therapy for me. It eases my mind and gives a relaxing feeling. I am not really into clothes. But shoes…only God knows how I can resist the feeling.

When I was a kid, every time my parents brought us their children to a shopping mall, we would certainly go the book store. I and my siblings had our own library with many kind of books, from comics to detective stories, from Asterix and Lucky Luke to Agatha Christie’s to the stories of the muslim prophets and Indian stories of Mahabharata.

Until not long ago the habit was still there. There was a kind of urgent feeling that made me step into the book store. Just to look around and did some fast skimming to some interesting books. But now, I feel an urgent feeling to go to the shoe counter! Can you imagine? Now, I only go to the book store when I need to buy a certain book.

Not like some girls that like to try on their mothers’ shoes, I did not like to do that girly stuff when I was a kid. If not reading new books, my childhood was spent on riding the bicycle that I bought with my own money (half-half with my parents –they were always successful in making us do a tiny little effort first whenever we wanted some ‘luxury’ things) and went around our neighborhood (I still remember the name printed on its side, it’s Elle Moi. I used to pronounce it ‘elemoy’ hehehe…), or did some sports like swimming or playing badminton.

Well, maybe, this new habit of trying on shoes is a good sign: that my feminine-side-that-comes-late finally find its way out…hue..he..he… It should be cherished, rite? ;p

take me to the moon

Saat ini saya rasa saya sedang memanjakan kemalasan. Kombinasi antara kesibukan, kurang tidur, dan pola makan yang kurang sehat membuat badan saya rasanya pegal-pegal terus. Biasanya, hal-hal semacam ini bisa disembuhkan dengan olah raga. Yoga, jogging keliling stadion utama Senayan atau berenang –beberapa jenis olahraga yang pernah saya lakoni dengan cukup teratur– paling tidak bisa membantu mengeluarkan angin-angin sesat di dalam badan dan melelehkan asam-asam laknat, eh asam laktat yang menempel di persendian. Namun, hasil check-up laboratorium yang menunjukkan indikator-indikator bahwwa jeroan saya berfungsi dengan baik juga ikut memperparah rasa malas itu (ah, males ah olahraga, toh kolesterol gue normal…ginjal normal…hati, jantung normal…)

Intinya, berbagai aktifitas tersebut (cuih..cuih…sok sibuk kalleee…) membuat saya malas bergerak. Akhirnya, jalan keluar yang saya tempuh adalah pijat memijat. Tentu saja saya yang dipijat. Banyak tempat pijat yang bisa meringankan beban kehidupan saya tersebut, mulai dari mbak Yem yang biasa datang ke rumah, sampai tempat-tempat pijat refleksi yang bertebaran di mal-mal di Jakarta dan berbagai airport di seluruh Indonesia (yup..saya menghabiskan waktu menunggu pesawat di bandara dengan dipijat he..he..).

Nah, kali ini saya ingin mereview satu tempat pijat yang enak banget. Cozy Spa namanya, tempatnya di Jalan Gandaria Jakarta Selatan. Cozy Spa awalnya ada di Bali. Temen saya si Onge selalu menyebut tempat ini sebagai tempat favoritnya kalau ke Bali. Nah sejak beberapa waktu yang lalu (mungkin hampir setahun ya…) Cozy buka cabang di Jakarta. Karena waktu ke Bali sama teman-teman dulu nggak sempat ke sana (malah ke tempat pijat shiatsu dimana kita diinjak-injak dengan suksesnya), maka lah saya iseng-iseng mencoba Cozy versi Jakarte ini.

Cozy menawarkan beberapa paket pijat. Mulai dari pijat refleksi sampai pijat seluruh badan. Karena memenuhi panggilan kemalasan badan ini, saya tanpa ragu-ragu mengambil paket pijat seluruh badan, namanya paket ‘take me to the moon’ (saya selalu salah menyebut sebagai paket ‘fly me to the moon’ seperti judul lagu…jelas aja si mbak-mbaknya bingung… heh, what??).

Paket ‘take me to the moon’ ini memang benar bisa membawa kita melayang-layang, walaupun nggak sampai ke bulan. Dari ujung kaki sampai ujung kepala kita dimanjakan dengan pijatan a la Cozy yang dilakukan oleh mbak-mbak para massager yang skillful dan berpengalaman. Dua jam penuh. Uniknya, disini pun kepala kita diputar-putar, walaupun jauh dari brutalitas inang-inang pemutar kepala dari Batak Karo sana.

Intinya, keluar dari sana, kita seolah-olah serasa dilahirkan kembali (hahahha…lebay yak?). Tapi, ada rupa pasti ada harga. Yah, untuk kenikmatan selama dua jam itu kita memang harus merogoh kocek cukup dalam. Dan beban kehidupan yang semakin berat ini tidak membolehkan saya untuk sering-sering kesana, bisa-bisa sakit kanker alias kantong kering (huaa…jadul banget istilahnya). Eniwei, Cozy deserves my review (hahhaa…syapa gue yah?) ;p

Dan rasanya saya harus mulai melirik sepatu keds saya yang selama ini tersimpan rapi di boxnya dan jalan-jalan di seputar rumah saya sebagai jogging tracknya.

ibu hermawati

Namanya Ibu Hermawati. Asalnya dari Pulau Burung, satu pulau kecil di perairan Kalimantan Selatan sana. Cita-cita bu Hermawati sederhana, dia ingin agar suatu hari kelak, orang-orang di kampungnya itu bisa menandatangani surat nikah mereka, dan tidak hanya menggunakan cap jempol atau sidik jari. Ya, di kampung Bu Herma mayoritas penduduknya buta huruf. Keterpencilan dan ketiadaan fasilitas pemerintah membuat sebagian besar penduduk Pulau Burung meninggalkan kampung halamannya, sampai-sampai hanya tersisa sepuluh keluarga yang masih berdiam disana.

Walaupun cita-cita Bu Herma sederhana, semangatnya untuk mewujudkan cita-cita tersebut tidak lah sederhana. Perlu niat, komitmen, keberanian dan pengorbanan yang besar. Dengan segala keterbatasannya –beliau pun bukan orang yang berpunya– Bu Herma menciptakan sekolah ala kadarnya di ruangan berukuran 2×3 meter persegi yang ada di rumahnya, tanpa bantuan siapa pun. Cita-cita sederhana Bu Herma untuk mencerdaskan kehidupan bangsa (yang btw merupakan amanat the founding fathers kepada pengelola negara ini …helllooo, anybody cares??!!…) mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat di kampungnya.

Tidak hanya memelekhurufkan warga kampungnya, Bu Herma berhasil pula menghidupkan kembali kampungnya dan membuat beberapa warga untuk kembali ke pulau mereka dan mengajak mereka untuk mulai memikirkan kembali masa depan pulau mereka tersebut.

Bu Herma tidak sendiri. Masih banyak ibu-ibu dan perempuan-perempuan lain, tua dan muda, dari Sabang sampai Merauke, yang tanpa ribut-ribut berbuat…dan amazingly menciptakan perubahan. Dua hari kemarin saya merasa sangat beruntung bisa bertemu kenal dengan mereka. Ketulusan hati mereka menginspirasi dan memperbarui lagi semangat saya. Mungkin tidak semua mereka tau siapa itu Mahatma Gandhi, tapi mereka benar-benar menerapkan apa yang Gandhi katakan: “Be the change you want to see”

the other boleyn girl

Pertama-tama, saya tidak akan banyak membahas film ini. Saya ingin menulis tentang status sosial.

Seorang teman saya pernah bilang, hanya ada dua cara agar seseorang bisa menjadi the fame and famous, yaitu dengan garis tangan, atau dengan campur tangan.

Dengan garis tangan tentu saja itu hak prerogatif Tuhan –siapa ditakdirkan jadi anak siapa, misalnya. Bagi yang tidak beruntung dilahirkan sebagai anak konglomerat, pejabat atau darah biru kaya raya, dia memerlukan campur tangan untuk memanjat tangga status sosial dan bertengger di posisi atas tersebut. Dengan campur tangan ini bisa macam-macam bentuknya, bisa campur tangan kerja keras, sikut sana-sini, injak bawah jilat atas, sampai campur tangan dukun Gunung Kawi kalo perlu.

Banyak sekali film, baik yang berasal dari karya fiksi maupun yang diinspirasi dari kisah nyata, menggambarkan situasi kerja keras dan proses campur tangan yang dilakukan orang untuk bisa masuk dalam golongan orang-orang yang beriman…eh, salah maksudnya, untuk bisa masuk dalam golongan socialites. Dan entah kenapa, the social-ladder climbers ini kok ya kebanyakan perempuan. Atau kalau pun tidak demikian, tapi perempuan dikondisikan seperti itu. Sebut saja film the Memoirs of Geisha, Monalisa’s Smile, Pride and Prejudice –hanya menyebut beberapa contoh.

Saya baru saja menonton The Other Boleyn Girl. Film ini menarik karena punya latar belakang sejarah, yaitu jaman pemerintahan King Henry VIII yang selama pemerintahannya membawa perubahan yang cukup siginifikan bagi kerajaan Inggris, misalnya pemutusan hubungan dengan gereja katolik Roma (dan mendirikan gereja kristen anglican).

Film ini menceritakan bagaimana ‘perjuangan’ kakak beradik keluarga Boleyn yang harus saling sikut untuk bisa mendapatkan status sosial dan masuk dalam ring satu istana. Film ini juga menggambarka bagaimana budaya memiliki selir ternyata tidak hanya terjadi di keraton-keraton Jawa tapi juga di budaya kerajaan Inggris yang sophisticated itu.

Sehabis menonton film ini membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang sejarah kerajaan Inggris terutama di masa Henry VIII sehingga saya sibuk googling dan searching di wikipedia. Well, sejarah selalu menjadi interest saya. Dari sejarah kita bisa belajar memahami orang, budaya dan karakternya.

Menariknya, ternyata Ratu Elizabeth II yang duduk di singgasana Kerajaan Inggris saat ini merupakan keturunan dari keluarga Boleyn ini –one of the social-ladder climbers di masanya.

august rush

People need to hold on something in their life. And Evan Connelly a.k.a August Rush holds on music, the sound of the nature, the voice of the universe, to lead him finding his parents. Evan believes that somehow the music and the sound connect him with his parents, and finally bring his parents back to him.

August Rush is a film about music, in its very deep meaning. August says,”The music is all around us. What you have to do is listen.”

The film tells a story about August, an orphan by circumstances. He was born from a philharmonic orchestra’s cellist mother and a rock band’s guitarist father. So the music is in his blood, and has made him a musical prodigy. The couple was also met by the circumstances, on a rooftop of a building near the Washington Park of Manhattan, New York (seee….it’s New York again… My most favorite film setting). They were also unified by the music, played by a street musician that was wandering around the park.

Being afraid that the unwanted baby will ruin the career of his mother, his grandfather fake baby Evan’s death, saying to his mother that she had a miscarriage, and sent him to an orphanage.

All his lifetime August trains himself to be unified with the sound of nature and creates music of his own. He deeply listens to the sound of the grass, the chimes, the wind, and the rhythm of the city. He lives his life with hopes that someday his parents will hear his call, that’s whispered everyday and sent through the sound of the nature. His belief that the music will bring his parents back to him has made the universe resonant to his call.

A very must see film, you will watch it with your heart. It shows that indeed we are all connected. It’s just a matter of finding the right medium that the universe has provided us with.

Older Posts »