are you genuine? or merely a copy of an actor?

Benar apa yang dikatakan beberapa orang bahwa media sosial bisa jadi topeng yang menyembunyikan wajah asli pemiliknya. Hal ini kuamati terjadi juga di Instagram –media sosial fotografi yang sangat beken saat ini. 

Banyak motivasi orang untuk beraktif ria di Instagram, ada yang ingin menyalurkan hobby fotonya, ada yang ingin beken dan terkenal, ada yang cuma iseng-iseng, ada yang ingin memperluas pergaulan, bahkan ada juga yang ingin mendapat penghasilan finansial. Menurutku semua sah-sah saja, yang penting –bagiku paling tidak, mereka jujur pada dirinya sendiri. Nggak usahlah jujur pada orang lain, diri sendiri aja dulu.
Tulisan ini adalah hasil observasi dan pengamatanku dari beberapa instagramer yang menurutku nggak jujur pada dirinya –terlepas apa motivasinya. 

Banyak sekali fotografer profesional yang bergabung di Instagram, dengan berbagai motivasinya. Dan mereka jujur mengaku bahwa mereka profesional. Aku angkat topi untuk mereka-mereka ini. Aku pun punya beberapa teman yang merupakan fotografer profesional, baik yang bekerja secara independen maupun terikat dalam satu organisasi atau media tertentu. Umumnya mereka ini jurnalis foto.
Aku juga punya teman-teman fotografer profesional yang bekerja di sektor komersial –periklanan, jasa foto perkawinan, dan juga untuk promosi perjalanan dan wisata. Terhadap mereka pun aku angkat topi.
Nah fenomena yang membuatku ilfil adalah fotografer profesional yang memberi kesan seolah-olah dia amatir, atau bahkan pemula. Enggak banget deh buatku! Entah kesan apa yang ingin mereka buat kepada audience-nya. Menurutku mereka nggak jujur pada dirinya. Yah sama diri sendiri aja palsu, apalagi sama orang lain!
Well, walaupun dalam bermedia-sosial aku tidak pernah menganggapnya terlalu serius, aku juga nggak asal-asalan memilih siapa yang aku follow. Dan karena menurutku fotografi –terutama di media sosial, bagaimanapun adalah ekspresi pribadi para juru potretnya, menurutku kejujuran dalam menampilkan foto sebagai representasi pemotretnya menjadi sesuatu yang penting. 

Apapun dirimu, tidak akan mengurangi atau menambahi apa yang kamu tampilkan. Kenapa malu jadi seorang profesional di media sosial?

seperti di luar negeri ya?

Sering nggak mendengar atau membaca komentar orang terhadap foto di medsos, misalnya, yang seperti itu? Hahahhaa saya sering sekali mengalaminya! Kalau saya posting foto di Instagram, terutama foto-foto alam Indonesia, pasti ada saja yang berkomentar “..mirip di Eropa ya?” atau “..kayak di luar nih”.

Sebagai orang yang sudah pernah mendatangi kota-kota dan wilayah-wilayah di lima benua di dunia (cuma kutub utara dan selatan yang belum pernah saya datangi), dan memblusuki  hampir seluruh propinsi di Indonesia —dari Aceh sampai Papua, dari ujung utara Sulawesi sampai pulau Timor– saya cuma tersenyum-senyum saja membaca komentar semacam ini.

Kadang terdengar klise, tapi sungguh, Nusantara ini kaya dan serba ada! Ini informasi A1, dari orang yang sudah melihat, mengalami, menyaksikan sendiri, sehingga bisa membandingkannya.

Pertama, dilihat dari topografi alamnya –apa sih yang nggak ada di Indonesia? baik di darat maupun lautnya? Gunung? Hutan? Rawa? Puncak salju? Savana? Perbukitan? Bukit-bukit karst yang menyembul-nyembul di lautan? Nusantara punya semua. Di Eropa, well, sorry guys, you can’t have them all in one country. Bahkan tidak di Cina –negara terbesar di dunia itu. Cina nggak punya hutan tropis yang kaya raya keanekaragaman hayatinya.

Kedua, peninggalan sejarah. Hah! gak perlu lah saya sebutkan ya. Sejarah Nusantaa sudah maju lebih dulu daripada Eropa. Namun seperti selalu disebutkan, sejarah adalah milik para pemenang dan penguasa. Dan ‘penguasa’ dunia saat ini adalah mereka di negara-negara industri. Makanya, Columbus lebih terkenal internationally dibandingkan Gajah Mada, misalnya. Di Eropa sana, rata-rata yang bisa disaksikan adalah peninggalan masa Renaissance –masa kelahiran kembali Eropa dari jaman kegelapan.

Ketiga, kuliner. Yaah ini juga nggak usah disebutkan lagi lah ya. Nggak ada yang mengalahkan variasi kuliner nusantara. Makanya saya adalah salah satu penentang penyeragaman nasi sebagai makanan pokok. Makanan pokok bukan hanya sekedar makanan, menurut saya. Itu juga adalah budaya, tradisi, keterikatan satu masyarakat dengan alam tempatnya tinggal. Karena nggak mungkin masyarakat pegunungan tinggi yang tidak cocok untuk padi terus tiba-tiba makan nasi. Itu adalah way of life. Mengubah dan mengintrodusir makanan pokok baru kepada satu masyarakat yang secara alamnya tidak mendukung dan secara budayanya tidak memiliki kebiasaan itu, berarti menghilangkan independensi mereka, membuatnya tergantung pada suplai dari luar, dan meningkatkan kerentanan mereka. Kita tidak perlu mendewa-dewakan nasi, karena toh di Cina, tempat asalnya nasi, nasi itu bukan makanan kelas raja-raja. Nasi itu makanan kelas pekerja (tanpa bermaksud merendahkan kelas pekerja loh..). Itu informasi yang saya dapat waktu saya ke Taiwan.

Budaya. Well, ini sebenarnya juga nggak perlu dijelaskan lagi. Adat istiadat, bahasa, kesenian, Nusantara kita ini kayaaa akan semuanya itu. Secara filosofis pun budaya kita nggak main-main –dalam, substansial, dan penuh pembelajaran. Beda dengan budaya pop yang sangat superfisial dan serba instan.

Well, tapi saya juga nggak melarang orang untuk travel the world. Itu bagus untuk membuka wawasan. Dan semakin kita banyak menjelajahi dunia, dan menjelajahi Nusantara, makin bangga kita rasanya sebagai warga Nusantara. Percaya deh!

stupidity

“Only two things are infinite, the universe and human stupidity, and I’m not sure about the former.” Albert Einstein.

I am quoting Einstein’s words because I lately have encountered stupidities.

Stupidity, I think, and I believe Einstein did, too, doesn’t have any relation with IQ or cleverness. It’s more about attitude. And I think stupidity comes from ignorance and arrogance.

Arrogance, because people think they are clever, read a lot of books or know so many theory and theorists. They are right, others are wrong. They know everything. And ignorance, because they think they are the only thing in the world that matter. They are the center of universe and the world revolves around them. They don’t care about other things, hence they are reluctant to learn to understand other people, and tend to underestimate things or people.

And what makes me piss off is that usually stupidity leads to problems. Problems that make other people’s lives difficult. And because of this, other people must clean the dirty plates. And worse, due to their infinite stupidity they make joke about the problems that other people has resolved!! For me, no mercy for this kind of people. I consider them not exist. I see no evil, hear no evil, know no evil.

That is why when faced with stupidity, or ignorance, or arrogance, I sincerely pray to God to protect these kind of people — so that they will not cause problems and make other people’s lives difficult. And if the absence of problems make them think they are right and make them more arrogance, so be it. Let them drown and breathe in their infinite stupidity.

I’ve had enough.

K I S S

Kiss di dalam tulisan ini bukanlah ciuman atau semacamnya, tapi singkatan dari Keep It Simple, Stupid! Yeah, dalam berinteraksi sehari-hari kadang kita bertemu dengan orang yang complicated dengan berbagai alasannya –bisa karena ingin terlihat pintar, atau memang otaknya kusut. Berbicara dengan orang-orang seperti ini diperlukan pendekatan dan teknik tersendiri. Apalagi gue orangnya termasuk yang ingin membuat segala hal sederhana tanpa bermaksud menyederhanakan. Jika satu hal ternyata memang kompleks, sadari bahwa itu kompleks, tapi jangan membuatnya jadi complicated. Tahu bedanya, kan? Apalagi kalau terbiasa dengan cara berpikir system thinking kita akan sadar bahwa tidak ada hal yang sederhana, karena hal-hal yang ada di dunia ini kompleks dan saling berkaitan. Namun bagaimana kemudian memilah-milah dan mengurai hal-hal kompleks tersebut menjadi komponen-komponen yang lebih mudah dicerna, itu lah yang diperlukan dan filosofi dari judul tulisan ini.

Kembali kepada orang-orang yang suka berpikir complicated.. Kadang-kadang gue didatangin oleh orang-orang semacam ini dengan membawa “masalah”nya. Biasanya kepada orang-orang semacam ini gue akan to the point bertanya, mau lo apa? Lo mau solusi atau mau curhat aja?

Kalau yang bersangkutan bilang mau solusi, maka gue akan dengarkan dia bicara dengan seksama sambil mengarahkan pembicaraannya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan, atau kerennya disebut guiding questions (Well ini bagian dari managerial and leadership skill). Gue nggak akan membiarkan dia bicara ngalor ngidul nggak ada ujung pangkalnya. Dan dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu gue nggak akan segan-segan motong pembicaraannya disana-sini, sampai gue tau apa inti masalahnya dan gue ajukan kesimpulan, solusi atau arahan. Biasanya percakapan seperti ini akan berakhir dengan gue berkata,”Jadi, elo musti begini, begitu, begono. Lakukan satu, dua, tiga.” Yeah, I am THAT to the point, and directing. Heuheu.. gak tau kenapa, bawaan orok.

Kalau yang bersangkutan cuma mau curhat, biasanya gue bilang bahwa gue lagi sibuk. “Ntar aja ya..” biasanya gitu yang gue bilang. Ngobrol curhat ngalor ngidul ya memang enaknya di waktu yang senggang, biar gak perlu mikir.

Nah ada juga orang yang complicated tapi gue nggak tau motivasinya. Kalo ditanya, gak pernah kasih jawaban fix — jawabannya selalu menggantung, selalu nggak jelas.

Misalnya mau janjian, pasti jawabnya belum tau. Atau, lihat nanti. Dan nggak ada konfirmasi lanjutan apakah jadi atau enggak. Well, gue paling nggak sabar dan paling nggak tau gimana menghadapi orang yang kayak gini. Kalo ada yang kayak gini, biasanya gue ambil kesimpulan bahwa dia nggak bisa, atau nggak mau. Tapi lucunya, kadang yang bersangkutan menganggap janjiannya jadi, dan ketika gue nggak “memenuhi” “janji” itu eh malah yang bersangkutan yang marah dan menganggap gue mengingkari janji. Hellooooo…?

Well, salah satu prinsip gue, if there is a will, there will be a way. Jadi buat gue, kalau memang gue mau, gue akan iyakan, walaupun belum tentu bisa atau ada hambatannya. Bagi gue, “ke-bisa-an” itu bisa diusahakan dan diupayakan (again, it needs your skill so it will not sacrifice anything or anybody), tapi kalau “ke-mau-an” itu fix. Ya namanya kalau udah nggak mau, ya pasti nggak akan bisa lah. Atau bahkan kalau kita cuma mau setengah-setengah, pasti akan ada aja halangannya. Seperti yang pernah gue tulis sebelumnya di blog ini: lakukan sepenuh hati, atau tidak sama sekali. Master Yoda bilang, “Do. Or do not. There is no try“.

Dalam pekerjaan gue sehari-hari gue meng-handle real life problems, menyangkut hajat hidup orang, menyangkut hidup matinya orang. So gue nggak butuh “drama” dan komplikasi di luar kehidupan kerja gue. I am as plain as a glass of non-fat milk (hahahhahaaa..). No drama, no hidden agenda.

Dengan gue, keep it simple, or take off!

IMG_7196.JPG

wish list

Oke, menjelang akhir tahun, dan biasanya diisi dengan postingan tentang refleksi dan harapan-harapan untuk tahun depan. Sebenernya udah lama gue nggak lagi melakukan visioning soal harapan-harapan gue ke depan. Seperti pernah gue tulis di postingan sebelumnya, gue hidup mengikuti aliran nasib aja. Tapi bukan berarti gue ongkang-ongkang kaki dan nggak melakukan apa pun. Prinsip gue, do my best in everything I do, and let God do the rest.

Tapi gegara gue di-tag oleh seorang teman di Instagram untuk sharing 10 harapan gue, jadi tergoda juga mengkhayal-khayal dan punya keinginan. Malah setelah dipikir-pikir, keinginan gue mungkin lebih dari 10! Hahahhaaa..

Time blinks. Nggak terasa, udah mau akhir tahun lagi. Perasaan baru kemarin gue naik ke Gunung Kerinci bareng temen-temen gue buat New Year’s Eve tahun lalu, eh udah mau ketemu New Year’s Eve lagi. Kangen juga pergi bareng geng melati seperti dulu, ngabisin NYE di Bali yang sebenernya gak gila-gilaan, cuma nyantai-nyantai, tapi asik aja rasanya — jalan-jalan, leyeh-leyeh, ngebego seharian. Tapi dulu ada cowok-cowok yang mau dikaryakan oleh kita para cewek pemalas yang nggak mengenal emansipasi –selama masih ada cowok yang bersedia dikaryakan, kita sama sekali nggak nolak diservice poll. Heuheu..

Anyway..

Balik lagi ke harapan-harapan gue. Harapan pertama adalah dapet beasiswa sekolah master, di Eropa atau USA. Aamiin. Udah lama banget keinginan sekolah lagi. Bahkan temen-temen gue udah pada selesai duluan. Tapi setiap kali mau mempersiapkan diri, eh ada aja tawaran kerjaan yang menantang. Alhamdulillaah gue kerja nggak pernah nyari, selalu aja dapat tawaran. Dan most of the time kerjaan itu yang fixing things, set up things, develop things, dan yang sejenisnya yang memang membuat gue secara pribadi tertantang walaupun kadang imbalannya nggak seberapa dari segi finansial, tapi pengalaman dan eksplorasinya nggak terbatas. I do what I like, channel my idealism through that, and get paid for that. Heaven! So next year, usaha dapetin beasiswa. Ambil kursus yang diperlukan, mungkin. Targetnya, tahun 2016 gue ciao pergi sekolah somewhere.

Harapan kedua, pergi ke Mekkah bareng bokap dan nyokap. Mr. Bo and Mrs. Nyo pergi naik haji duluuu banget tahun 1983. Dan kayaknya mereka berdua kangen pergi ke Mekkah lagi. Gue dan salah satu abang gue pernah bernazar untuk pergi umroh bareng Bo-Nyo, tapi belum kesampaian karena kesibukan dan lain-lain. Yah, Insya Allah tahun depan.. Aamiin Ya Allah.

Harapan ketiga, well, ini harusnya jadi harapan pertama sih, gue pingin punya kesehatan yang baik, lahir dan batin, juga limpahan rizqi yang cukup –cukup buat hidup, cukup buat beramal dan nyenengin keluarga gue. Aamiin…

Harapan keempat dan seterusnya adalah harapan sekunder, artinya gak mupeng-mupeng amat, tapi tetap gue usahakan dan kalau terkabul ya Alhamdulillaah..

Gue pingin tahun depan bisa ikut full marathon 42 kilometer dan masuk ke finish. Setelah itu, gue pingin bisa free-diving, biar bisa kayak Ariel ikan duyung tokoh Disney favorit gue.

Untuk tempat-tempat favorit, gue pingin jalan di Inca Trail Machu Picchu di Peru. Terus, gue pingin ke Praha lagi, dan tentunya ke Paris. Satu keinginan gue tahun ini terkabulkan, yaitu gue ingin bisa ke Paris tanpa perlu ke kedutaan Perancis! Gara-gara gue menglamai kejadian menyebalkan waktu urus visa di Kedubes Perancis di sini yang menyebabkan gue gagal berangkat. Dan gue bersumpah gak akan pernah gue minta visa ke sana lagi.  Bahkan kalau itu berarti gue gak akan pernah melihat kota indah itu. Tapi dasar aja gue beruntung (Alhamdulillaah), gue dapat visa Schengen dari negara lain sampai 2018. Hahahhaaa… Eat that, Fr Embassy!

Selain itu, untuk gunung gue juga pingin ke Everest Base Camp (EBC) dan ke Tibet. Setelah berbondong-bondong orang pergi ke Nepal, that place became too mainstream. So Tibet, there I’ll go. Tentunya gue perlu persiapan fisik, seperti teman gue si Sonya yang sudah bersiap sejak Oktober untuk keberangkatannya ke EBC di bulan April. Untuk di Indonesia, gue pingin banget bisa pergi ke tanah-tanah tertinggi di setiap pulau di Indonesia –Indonesia’s 7 Summits, kata orang-orang. Nggak perlu muncak juga sih, yang penting pernah mendakinya. Tanah tertinggi yang pernah gue injak adalah di daerah Pegunungan Tengah, Papua, sekitar 4.000-an meter di atas permukaan laut. Well, nggak nanjak sih tapi yah lumayan lah.

And last but not the least, gue pingin menjalani perjalanan kereta api Trans Siberia, dari Moskow sampai Vladivostok –barat ke timur sejauh 9.289 kilometer. Cita-cita ini terinspirasi bukunya Paulo Coelho, Aleph. Dan kalau bisa sih ngalamin perjalanan ini sama suami gue nanti. Tapi kalo enggak ya nggak apa-apa juga. Oh iya, by the way, suami is a bonus di dalam wishlist gue –kalau ada Alhamdulillaah, kalo enggak ya Alhamdulillaah juga 😝😝

Gitu deh cerita cita-cita gue. Semoga terkabul sebagian atau seluruhnya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

IMG_7133-0.JPG

261k and keep going

It has been a year now since I started running regularly. Well I wanted it to be an everyday run, but unfortunately because of my busy schedule (uhuk..) that required me to go out of the city, and my chronic laziness, that ‘regularly’ has become not so regularly.

IMG_7136-0.JPG

So far I have run as far as 261.6 km! Yes! And I think it’s not that bad, is it? This morning I finished a 10k –although it was done in a very slow pace. Well It has been a month now since the last time I run, so I don’t want to hurt my feet. Besides, I have just come back from travel that made me sit for 20 hours –one way! Poor my back and my feet, so I need to stretch them out a little bit.

I love running, because it clears my mind, makes me calm, not to think about anything but my step. It is a kind of meditation for me. The sore in the angkle or the leg doesn’t matter, it is part of the experience.

I am not really fond of joining the fun-run competition, as I found it difficult to really run, and just too much efforts to do.. (for example, waking up very early and going to the race place.. eugh!) Hahaaha.. Yes, I am pathetic lazy b*tch! 😜

But, as I plan to go hiking again by the end of this year and need to maintain my health and body strength –so I will not become a burden for someone else, I need to keep my spirit high and drag myself out of my comfy bed for running more often. Besides, I have targetted myself to join and finish a full marathon some time next year. Aamiin.

By the way, currently I am reading an unusual book of Hiraki Murakami’s “What I Talk About When I Talk About Running”. I didn’t know that he is a runner. So when I saw the book at Strand Bookstore, Manhattan, I just grabbed and bought it. Knowing the real side of the authors is one of my interests, understanding their background, how they grew up etc can help me understand their writings, or why they chose a theme for their book, for example. And Murakami’s book makes me smile all the time as I feel quite the same as him, as runner –although I am not that good runner compared to him. But somehow I can relate.

Anyway..

IMG_7137-2.JPG

IMG_6668.JPG

sunda kelapa from my eyes

I had been wanting to go to the traditional harbour of Sunda Kelapa, but plans made always failed. So when a friend who took me for a photowalk changed his mind about where he wanted to go, and got us to Sunda Kelapa instead, there was no reason for me to say no.

So there we went. The harbour in that late afternoon was pretty busy, with people loading and unloading things to and from the schooners. Yes, at this harbour it is the traditional wooden schooners dominated the scene. For centuries, Indonesian sailors and explorers had been known for their journeys around the globe.

The Bugis –from where my ancestors came, especially famous for this. They sailed using Phinisi Schooner. Not only they sailed all over the world, they also had been known for attaining lands in their destination, mostly by giving their services to the native lords in return for some piece of land, or by marrying the locals. That’s how the history tells. It’s not so surprising that in almost every region in Indonesia, or even in Southeast Asia, you can find any Kampung Bugis, or Bugis Village.

Back to Sunda Kelapa. After strolling along the long pier, we took a small boat and went down to waters around the harbour. The timing was perfect, as the sun was setting, it gave a good lighting.

So here below are some of my shots, using Hipstamatic app from my iPhone, set for random combo.

IMG_6737-1.JPG

IMG_6739.JPG

IMG_6730-0.JPG

IMG_6731-0.JPG

IMG_6721.JPG

IMG_6725.JPG

IMG_6703.JPG

IMG_6706.JPG

IMG_6681.JPG

IMG_6684-0.JPG

IMG_6678.JPG

IMG_6700.JPG

IMG_6685.JPG

IMG_6699.JPG